Kamis, 09 April 2015

Cerita Horor, Creepypasta dan Riddle - Robot Bisa Berbicara

Suatu cerita tentang seorang anak yang tidak dapat berbicara walaupun sudah berusia 5 tahun. Ayahnya pun memberikannya sebuah robot yang dapat berbicara sebagai hadiah dengan tujuan sebagai penghibur bagi anaknya. Kau harus menebak dulu makna di balik cerita ini, dan kau akan menyadari ada horor tersembunyi di balik cerita ini.



Aku punya anak yang aku cintai dengan sepenuh hati, tetapi meskipun ia sudah berusia 5 tahun, ia belum dapat berbicara. Saya tidak tahan ketika orang menyebut dia sebagai "anak keterbelakangan mental". Dia adalah seorang anak yang cerdas.

Ketika ia masih bayi, anakku menderita penyakit yang serius. Dia sembuh dari penyakit itu, tapi semenjak itu dia tidak pernah bisa belajar berbicara. Aku dan istriku membawanya ke beberapa psikolog dan terapis, tapi tak satu pun dari mereka yang mampu membantunya. Mereka mengatakan penyebab masalahnya adalah gangguan pada psikosomatiknya (emosi atau jiwanya). Mereka berkata lambat laun ia akan bisa berbicara ketika emosinya sudah stabil.


Aku dan istriku menghabiskan banyak waktu dengan anak kami, berbicara dengan dia dan mendorong dia untuk mengulangi beberapa kata setelah kami. Setelah semua yang aku usahakan, ia hanya mampu membuat suara lengkingan bernada tinggi. Terkadang ia akan menjadi sangat frustrasi dan menangis. Semua yang bisa kami lakukan adalah memeluknya dan meyakinkan dia bahwa kami mencintainya.


Suatu hari, aku berada di sebuah toko mainan dan di salah satu rak, sebuah boneka menarik minatku. Itu adalah robot yang dapat berbicara. Aku memutuskan untuk membelinya untuk anakku sebagai hadiah. Aku berharap itu bisa membantu dia untuk belajar berbicara.


Ketika anakku membuka kotak dan melihat robot itu, dia sangat gembira. Dia begitu bersemangat, dia memelukku dan membuat lengkingan bernada tinggi. Aku menarik sebuah senar di belakang dan menunjukkan bagaimana untuk membuat robot itu dapat berbicara.


Anakku jatuh cinta dengan mainan itu dan membawanya ke mana pun ia pergi. Saya sering mendengar dia bermain dengan boneka itu di kamar tidurnya, menarik senar dibelakang tubuh robot itu dan membuat robot itu berbicara. Namun, anakku tidak pernah berbicara sepatah kata pun.


Suatu pagi, anakku turun untuk sarapan dan aku meletakkan sepiring wafel di depannya.


"Aku tidak suka ... ini," gumamnya.


Selama beberapa detik, aku tidak percaya dengan apa yang ku dengar.


"Apa yang kau katakan?" Tanyaku heran.


"Aku bilang ... aku tidak suka ... wafel," ulangnya dengan nada datar.


Aku bergegas dan memeluknya erat-erat. Air mata mengalir di pipiku.


"Kamu bisa bicara!" Aku berteriak, gembira. "Kamu bisa bicara!"


"Aku bisa ... bicara," kata anakku.


"Bagaimana?" Tanyaku, suaraku berat dan penuh emosi. "Bagaimana ini bisa terjadi?"


Anakku mengangkat tangannya dan menunjuk ke kamar tidurnya.


"Itu ... robot," katanya. "Robot ... memberi kekuatan kepadaku ...."


Setelah itu, anakku mulai berbicara setiap hari. Dia mengatakan beberapa kata setiap hari, tetapi selalu dalam nada monoton yang sama. Aku harusnya bahagia, tapi aku sedikit gelisah.


Ada sesuatu yang berbeda tentangnya. Dia tidak menunjukkan emosi apapun lagi. Dia tidak pernah menangis. Dia tidak pernah tersenyum. Dia tidak pernah memelukku. Dia hanya duduk di sana sambil menatapku.

Ia juga tidak pernah bermain dengan robot itu lagi.


Kemarin, aku mengambilnya dan menarik senarnya.


Suara yang dibuat adalah lengkingan bernada tinggi.


Tidak peduli berapa kali saya tarik senarnya, suaranya masih sama. Suara lengkingan bernada tinggi...


... Sama seperti lengkingan bernada tinggi yang anakku buat sebelum ia bisa berbicara.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar:

Silahkan sampaikan saran, kritik dan komentar anda terhadap postingan dan blog ini. Satu kata anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini