Senin, 05 September 2016

Kisah Gadis Yang Malang adalah Cerita Horor dan Urban Legend yang berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Riana. Ia adalah seorang gadis yang bahagia dan sangat di sayangi kedua orangtuanya. Hingga sebuah tragedi merubah seluruh hidupnya. Ia mengalami gangguan mental dan semua orang menjauhinya. Bagaimana kelanjutannya? Kau mungkin tidak akan bisa menebak bagaimana akhir dari cerita ini.

Cerita Horor dan Urban Legend Kisah Yang Gadis Malang

Suatu cerita, ada seorang anak kecil bernama Riana. Dia memiliki orangtua yang sangat mencintainya. Riana sangat bahagia dan menyayangi kedua orangtuanya. Semua kebahagian itu berakhir pada ulangtahunnya yang ke-10 tahun.

Kedua orangtuanya telah merancang pesta ulangtahun spesial untuk Riana. Malam itu, ketika mereka berkendara dengan sebuah mobil untuk pulang, Riana sangat senang bercakap-cakap dengan kedua orangtuanya. Riana menceritakan kebahagiaannya tentang pesta ulangtahunnya yang sangat meriah itu. Sayangnya, ayahnya berkonsentrasi kepada ucapan Riana dan tidak memperhatikan jalan raya di depannya.

Seketika, Ibu Riana berteriak, "AWAS!"

Ayah Riana melihat sebuah truk melaju lurus ke arah mobil mereka. Dia mencoba membanting stir mobil ke arah lain, tetapi semua itu sudah terlambat. Yang terakhir Riana dengar adalah suara decitan rem dan bunyi tabrakan yang menulikan sebelum Riana kehilangan kesadaran.

Ketika Riana terbangun, dia menemukan dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Para dokter memberitahukan kepadanya bahwa ia sangat beruntung bisa selamat dari kecelakaan itu dengan luka yang tidak terlalu serius. Kedua orangtuanya tidak bisa terhindar dari maut karena tabrakan itu.

Walaupun lukanya akan semakin membaik seiring berjalannya waktu, luka yang paling parah justru di dalam hatinya. Riana terus menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian kedua orangtuanya. Dialah yang terus berbicara hingga ayahnya tidak konsentrasi ke jalan raya dan terjadilah kecelakaan itu. Riana menganggap bahwa itu semua adalah salahnya.

Ketika Riana cukup pulih untuk dikeluarkan dari rumah sakit, Riana dikirimkan ke sebuah panti asuhan. Riana masih menyalahkan dirinya sendiri dan menolak untuk berbicara kepada siapapun. Dengan rasa penyesalan yang dalam, ia selalu mengunjungi makam kedua orangtuanya setiap hari Minggu dan meletakan seikat bunga mawar segar di atas makam mereka.

Di panti asuhan, Riana selalu diam dan menghabiskan waktunya di dalam kamarnya sendirian. Anak-anak di panti asuhan mulai menganggapnya aneh. Tidak ada yang ingin berteman dengan Riana. Begitu pula dengan para perawat yang bekerja di panti asuhan itu. Mereka hanya memberinya makanan lalu meninggalkan Riana sendirian di kamarnya.

Riana mulai menunjukan tanda-tanda gangguan mental dan akal. Dia beberapa kali menyerang teman-teman sekamarnya dan beberapa perawat yang mencoba menenangkannya. Riana mulai mencakar, memukul dan menjambak beberapa anak-anak yang mencoba mendekatinya. Walaupun begitu, Riana semakin sering mengunjungi makam kedua orangtuanya. Dari seminggu sekali, lalu menjadi tiga hari sekali dan akhirnya menjadi setiap hari.

Riana mulai semakin liar, bahkan ia semakin berani untuk menggigit seseorang hingga berdarah. Beberapa anak mulai takut dan menjauh darinya. Para perawat mulai berpikir untuk memindahkannya ke rumah sakit jiwa. Tetapi pihak rumah sakit jiwa tidak ingin menerima anak yang masih dibawah umur. Hingga akhirnya, para perawat memutuskan untuk memasukannya ke sebuah kamar khusus yang dijaga ketat agar ia tidak dapat menyerang siapapun.

Riana tidak diperbolehkan keluar untuk mengunjungi makam kedua orangtuanya karena para perawat takut ia akan mencoba kabur dan menyakiti orang lain. Riana mulai berteriak dan menggedor pintu kamarnya ketika ia tidak diizinkan untuk mengunjungi makam kedua orangtuanya. Ia berteriak seharian penuh hingga terkadang para perawat terpaksa memberinya obat bius. Tetapi setiap ia bangun, ia akan mulai berteriak lagi dan tanpa henti. Tubuh Riana mulai kurus dan lemah. Ia selalu menolak makanan yang diberikan oleh para perawat.

Pada satu malam, Seorang perawat ditugaskan untuk menjaga kamar Riana. Ia membawa satu nampan berisi makanan dan minuman untuk Riana. Sesampainya perawat itu didepan pintu kamar Riana ia mendengar sesuatu yang aneh di dalam kamar. Ia mendengar suara nyanyian pengantar tidur dari dalam kamar Riana. Suaranya seperti seorang wanita tua. Tidak ada seorang pun di dalam kamar itu selain Riana. Dan Riana tidak berteriak seperti biasanya.

Perawat itu membuka kunci kamar Riana, ketika ia membuka kamar itu, ia tidak melihat apapun karena lampu kamar itu dimatikan. Ketika ia menyalakan saklar lampu, perawat itu terkejut dengan pemandangan di depan matanya.

Diatas tempat tidur, Riana terbaring dengan muka pucat. Mulutnya menganga dengan lidah yang menjulur keluar. Kelopak matanya terbuka lebar hingga perawat itu berpikir bahwa bola matanya akan keluar dari tempatnya.

Di samping kanan dan kiri Riana, terdapat mayat kedua orang tuanya memeluknya dalam dekapan.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar:

Silahkan sampaikan saran, kritik dan komentar anda terhadap postingan dan blog ini. Satu kata anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini