Minggu, 17 Mei 2020

Cerita Horor - Kebohongan yang Nyata

Cerita Horor ini menceritakan tentang seorang anak bernama Mary yang suka berbohong kepada ibunya untuk menutupi apa yang telah ia lakukan kepada adiknya yang bernama Nana.

kebohongan-yang-jelas

Ada seorang gadis muda bernama Mary. Dia sedang bermain di kamarnya ketika dia mendengar ibunya memanggilnya dari dapur. Dia berlari ke bawah.

“Mary, kemarilah. Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu,” kata ibunya.

"Apa itu?" tanya Mary.

"Apakah kamu tahu siapa yang memakan kue yang ada didalam kulkas? Kue itu untuk para tamu yang akan datang."

"Uh...Tidak...aku tidak tahu," jawab Mary.

"Apakah kamu makan kue itu?" ibunya bertanya.

"Tidak, Mama, aku tidak melakukannya," jawab gadis kecil itu.

Mary meremas-remas tangannya dengan gugup.

"Mary, aku tahu ketika kamu berbohong," kata ibunya. “Apakah kamu mau Ibu hukum?"

Mary tidak tahan lagi, ia merasa bersalah. Dia mulai terisak.

"Mama, maafkan aku!" dia meratap. "Aku yang memakan kue itu! Maafkan Aku!"

"Baiklah. Berhentilah menangis,” kata ibunya sambil memegangi tangannya. "Aku marah karena kamu berbohong padaku. Sekarang Kamu sudah mengatakan yang sebenarnya, aku tidak akan menghukummu. Aku tidak suka pembohong, jadi jangan pernah berbohong kepadaku lagi, oke? "

"Oke," kata Mary.

Beberapa bulan kemudian, Ibu Mary hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan yang lucu. Ketika dia pulang dari rumah sakit, Mary sangat senang.

"Ini Nana," kata ibunya. "Kamu kakak perempuannya. Kamu harus menjaganya dan memperlakukannya dengan baik."

"Baik, Mama," kata Mary.

Tetapi setelah bayi itu tiba, ibunya seperti tidak punya waktu untuknya. Bayi itu menangis sepanjang hari dan sepanjang malam. Mary tidak tahan mendengarnya menjerit dan menangis. Akhirnya, Mary protes kepada ibunya.

"Mama! Aku muak dan lelah mendengarnya menangis! " dia berteriak. "Aku tidak bisa belajar dengan semua keributan ini! Bisakah kamu diamkan dia? ”

"Kamu harus lebih pengertian," kata ibunya. “Nana masih bayi. Kamu adalah kakaknya."

"Tapi kamu selalu bersama Nana," seru Mary. "Kamu tidak pernah punya waktu untukku lagi. Aku juga ingin menghabiskan waktu bersamamu, Mama. Aku ingin pergi ke toko bersamamu, ke taman bersamamu, bermain denganmu..."

"Kamu sudah cukup besar untuk melakukan itu semua sendiri, kamu harus mandiri," kata ibunya. "Jadi, tutup mulutmu dan berhenti bersikap egois."

"Aku benci Nana!" Mary menjerit sambil menangis.

Mary berlari ke atas, membanting pintu dan mengunci dirinya di kamarnya. Malam itu, dia menolak untuk turun untuk makan malam. Sebaliknya, dia tetap berdiam di kamarnya. Nana sudah merebut semua kasih sayang ibunya dari dirinya.

Malam itu Mary memiliki mimpi yang sangat menyeramkan. Dalam mimpi buruk itu, dia melihat dirinya berjalan melewati rumah dalam kegelapan. Dia pergi ke kamar ibunya. Kemudian, dia mengambil adik perempuannya dan membawanya ke bawah.

Dalam mimpi itu, Mary membuka pintu belakang dan membawa Nana ke kebun. Di sana, di bawah cahaya bulan, dia mengambil sekop dari gudang, menggali lubang kecil di rumput basah dan mengubur adik perempuannya hidup-hidup.

Ketika dia bangun di pagi hari, Mary bergetar dan berkeringat. Dia merasa perutnya mual. Mimpi buruk itu tampak begitu nyata. Dia ngeri.

"Ibu benar," pikirnya. “Nana hanyalah bayi. Aku kakak perempuannya. Aku perlu belajar untuk menghadapi hal-hal seperti ini. Aku harus meminta maaf kepada Ibu dan Nana."

Saat itu, ibunya masuk ke kamarnya. Air mata mengalir di wajahnya.

"Mary, tahukah kamu di mana Nana?" dia bertanya. "Ketika aku bangun pagi ini, dia tidak ada di tempat tidurnya. Apakah kamu tahu sesuatu? ”

Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.

"Apakah kamu yakin?" desak ibunya. "Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa? Apakah kamu bersumpah?"

Mary menelan ludah. "Ya, aku bersumpah," katanya lemah.

"Baik! Cepat bangun!" kata ibunya. "Bantu aku menemukannya!"

Mereka menggeledah rumah dari atas ke bawah, tetapi mereka tidak dapat menemukan Nana. Mereka berlari mondar-mandir di jalan mencari bayi itu, tetapi dia tidak terlihat. Akhirnya, ibunya berlutut dan mulai terisak-isak tak terkendali.

"Kemana Nana pergi?" dia meratap. "Bagaimana mungkin Nana bisa hilang? Dia bahkan tidak tahu cara berjalan. Bagaimana dia bisa menghilang seperti ini?"

Mary meremas-remas tangannya dengan gugup.

"Mary, kamu tahu sesuatu!" ibunya berteriak. “Mary! Kamu tahu apa yang terjadi pada Nana, bukan?"

"Tidak," kata Mary. "Aku tidak tahu apa-apa..."

"Mary, aku sudah memperingatkanmu untuk tidak berbohong padaku lagi!" ibunya berteriak.

"Aku tidak berbohong," gumam Mary.

"Aku tahu ketika kamu berbohong!" teriak ibunya. "Katakan padaku! Dimana dia? Di mana Nana?"

Mary merasa bersalah. Dia tidak tahan lagi. Dia melihat keluar jendela dan menunjuk ke gundukan tanah di taman.

"Apa yang kau lakukan!" ibunya menangis. "Ya Tuhan! Tidak! Ini tidak mungkin! "

"Mama!" gadis kecil itu terisak. Dia mencoba meraih tangan ibunya.

"Jangan sentuh aku!" ibunya berteriak. "Kamu membunuh Nana, kan! Kamu membunuhnya karena kamu cemburu!”

"Aku tidak bermaksud seperti itu, Mama!" Mary menangis. "Aku tidak tahu apa yang aku lakukan!"

Ibunya sangat marah. Dia meraih leher putrinya dan mulai mencekiknya. Dia mencekik Mary hingga tidak bisa bernafas. Ketika dia sadar, Mary sudah terbujur kaku di lantai dapur.

Tiba-tiba bel pintu berdering.

Sang ibu bangkit dan menjawabnya.

Ketika dia membuka pintu, dia melihat tetangganya berdiri di luar. Dia memeluk Nana.

"Kami menemukannya Nana saat tengah malam.. Dia tengah merangkak sendirian di luar," katanya. “Dia pasti keluar dari tempat tidurnya di malam hari. Untung kami menemukannya sebelum sesuatu yang buruk terjadi."
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar:

Silahkan sampaikan saran, kritik dan komentar anda terhadap postingan dan blog ini. Satu kata anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini