Senin, 25 Mei 2020

Cerita Horor - Wabah Merah

Wabah Merah adalah kisah menakutkan tentang seorang pangeran yang bersembunyi di istananya sementara wabah mengerikan menyapu seluruh negeri. Ini didasarkan pada cerita pendek klasik oleh Edgar Allan Poe yang disebut "The Masque of the Red Death (Sang Topeng Merah Kematian)".



Ada seorang pangeran bernama Prospero yang tinggal di sebuah kastil besar di pegunungan. Para pelayan dan punggawanya melayani setiap keinginannya. Kastil itu memiliki dinding batu yang tinggi dan dikelilingi oleh parit yang dalam. Di pintu masuk, ada gerbang raksasa terbuat dari besi yang kokoh.

Pangeran mendengar desas-desus bahwa ada wabah mengerikan menyapu seluruh negeri. Mereka menyebutnya "Wabah Merah". Penyakit ini sangat menular dan seluruh kota telah musnah dalam satu malam.

Mereka yang terinfeksi menderita pusing tiba-tiba dan rasa sakit yang menusuk. Kemudian, kulit mereka akan pecah-pecah dan memiliki ruam kemerahan. Kemudian, dalam beberapa menit, darah akan mulai mengalir dari mata, hidung dan mulut mereka sampai mereka pingsan karena kekurangan darah (anemia). Kemudian mereka akan menggeliat kesakitan dan akhirnya mati karena sakit yang tak tertahankan.

Ketika tersiar kabar bahwa wabah semakin mendekat, sang pangeran mengundang ratusan temannya untuk mengungsi di istananya. Dia mengunci gerbang, menutup jendela dan menurunkan gerbang raksasa untuk mencegah semua orang masuk dan keluar. Di dalam istana, sang pangeran dan tamunya tertawa, menari dan bersuka ria saat masyarakat yang berada di luar tembok menderita dan mati ketika wabah itu.

Untuk menghibur tamunya, Pangeran Prospero memutuskan untuk mengadakan pesta dansa. Tiap tamu hadir dengan pakaian yang mewah dan mengenakan topeng. Sang Pangeran memerintahkan pelayannya untuk mendekorasi ulang tujuh kamar untuk pesta dansa. Kamar pertama dicat biru, dari lantai hingga ke langit-langit. Yang kedua merah muda, yang ketiga hijau, yang keempat oranye, yang kelima putih dan yang keenam adalah ungu.

Kamar terakhir yaitu kamar ketujuh benar-benar hitam. Dinding dan langit-langitnya dicat hitam. Karpet di lantai berwarna hitam. Tirai yang tergantung di dinding terbuat dari satin hitam. Semua perabotan dilapisi kain beludru hitam.

Di dinding ruangan pertama hingga ketujuh, ada sebuah jam kuno hitam besar dengan pendulum yang berayun perlahan ke sana kemari, membuat suara detak-detik yang keras dan monoton. Ketika jam tersebut menunjukan jam tepat (jarum panjang di angka 12), jam akan berdentang, memberikan serangkaian dentang keras, seperti bunyi lonceng.

Tidak ada kamar yang memiliki lampu. Di setiap kamar, satu-satunya penerangan datang dari api yang berkobar di perapian yang melemparkan bayangan berkelap-kelip di semua dinding. Di ruang ketujuh, cahaya api melemparkan bayangan aneh dan menakutkan di dinding sehingga sangat sedikit dari para tamu cukup berani untuk menginjakkan kaki di dalamnya.

Pesta dansa mulai di ruangan pertama berwarna biru dan para tamu semua bersenang-senang. Semua orang mengenakan topeng sehingga mereka tidak mengenal satu sama lainnya. Para musisi memainkan lagu-lagu gembira sementara para tamu menari. Mereka makan makanan dan minum anggur yang telah diletakkan di atas meja saji.

Kontras dengan suasana di dalam istana, masyarakat kerajaan di luar dinding istana banyak yang menjadi korban Wabah Merah yang mematikan.

Kapan pun jarum panjang jam menunjukkan angka 12, para musisi akan berhenti bermain, para tamu akan berhenti menari dan semua orang akan berdiri dan mendengarkan bunyi dentang jam kuno itu. Ketika gema lonceng berdentang jam kuno itu telah menghilang, para tamu akan pindah ke kamar sebelah dan pesta pora akan dimulai lagi.

Malam semakin berlalu. Setiap satu jam, jarum panjang menunjukan angka 12 dan jam dinding berdentang, mereka berpindah dari satu kamar ke kamar yang lain. Dimulai dari kamar biru ke kamar merah muda, ke kamar hijau, ke kamar oranye, ke kamar putih dan ke kamar ungu sampai akhirnya mereka memasuki kamar hitam.

Pada tengah malam, pukul 12 malam tepat, jam mulai berdentang dua belas kali dan semua orang berhenti untuk mendengarkan. Ketika lonceng mereda, para tamu menjadi sadar akan sosok bertopeng yang berdiri di tengah-tengah ruangan. Orang itu tiba-tiba muncul, entah darimana. Tidak ada tamu yang mengenalnya dan memperhatikannya sebelumnya.

Orang asing itu tinggi dan kurus. Dia mengenakan jubah merah gelap dan wajahnya ditutupi oleh topeng merah dalam bentuk tengkorak.

Ketika Pangeran Prospero melihat sosok yang berdiri di antara para tamu, ia berteriak marah.

"Kamu siapa?" dia menuntut dengan suara serak. "Beraninya kau menghinaku dengan datang ke sini tanpa undangan! Tinggalkan istanaku saat ini atau aku akan membunuhmu! ”

Sosok bertopeng tidak bergerak untuk pergi. Sebaliknya, dia berdiri di sana, menatap sang pangeran dari balik topengnya.

Pangeran Propsero tidak suka dibantah. Dia menghunus pedangnya dan berkata kepada orang asing itu. "Pergi sekarang atau aku akan membunuhmu," teriaknya.

"Apakah kau tahu bahwa masyarakat mu di luar istana tengah menjadi korban wabah merah ini? Banyak mayat bergelimpangan di luar sana. Dan kau di sini malah mengadakan pesta dansa? Pemimpin macam apa kau ini?" balas sosok bertopeng itu.

"Aku tidak peduli dengan nasib mereka! Yang penting aku dan semua keluargaku selamat!" ucap Pangeran Prospero tidak peduli.

Sosok bertopeng perlahan berjalan menuju pangeran dan semua tamu mundur, terlalu takut untuk menghentikannya. Berdiri di depan Pangeran Prospero, sosok itu mengulurkan tangan kurusnya dan melepas topengnya.

Sang pangeran menjerit tajam dan menjatuhkan pedangnya. Para tamu menjerit ngeri. Di balik topeng itu, tidak ada wajah sama sekali, hanya kekosongan.

Tiba-tiba kumpulan kabut gelap keluar dari balik jubah dan topeng orang asing itu.

Pangeran Prospero dan tamu-tamu pesta tiba-tiba menjadi pusing dan dia merasakan sakit yang menusuk. Kulitnya pecah menjadi ruam merah dan darah mulai mengalir dari matanya, hidungnya dan mulutnya. Pangeran dan para tamu jatuh, menggeliat kesakitan dan jeritan mereka menggema melalui tujuh kamar.
Setelah melihat mereka terbujur kesakitan. Orang asing itu menutup kembali topengnya dan berjalan keluar istana.

Sang "Topeng Merah Kematian" datang, menyelinap seperti pencuri di malam hari dan satu demi satu, sang pangeran dan tamunya tewas pada penyakit yang mengerikan itu.

Sang Topeng Merah Kematian pergi, merenggut setiap nyawa yang menghalangi jalannya.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar:

Silahkan sampaikan saran, kritik dan komentar anda terhadap postingan dan blog ini. Satu kata anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini